Gelombang Panas Picu Gagal Panen di Bangladesh

Author : fahrihusen88
Publish Date : 2021-06-10


Gelombang Panas Picu Gagal Panen di Bangladesh

Bencana gelombang panas membersitkan ancaman kelangkaan pangan di Bangladesh. Suhu yang tinggi berpadu dengan tingkat kelembapan yang rendah dan melumat sawah petani, serta menghancurkan hasil panen.

Di atas lahan sawahnya di timur laut Bangladesh, Shafiqul Islam Talukder berdiri menggenggam setangkai padi yang meranggas hanya menyisakan sekam, tanpa biji. 

Petaka datang April silam, ketika gelombang panas menyapu Bangladesh selama dua hari berturut-turut. Hasil panen yang seharusnya menafkahi keluarga Shafiq hingga penghujung tahun, lenyap dalam sekejap, ratap petani berusa 45 tahun itu. 

"Mimpi saya memanen sudah sirna,” kata dia. "Saya tidak tahu lagi bagaimana bisa membiayai keluarga untuk tahun ini. Saya menginvestasikan semua tabungan untuk menanami lima hektar sawah dengan bibit unggul. Sekarang semuanya berakhir,” imbuhnya dengan mata berkaca-kaca.

Gelombang panas yang memadukan suhu tinggi dengan tingkat kelembapan dan curah hujan yang rendah, menghancurkan ribuan hektar sawah di lumbung padi Bangladesh. Lebih dari 36 distrik terdampak ketika suhu menyentuh angka 36 derajat Celcius selama dua hari di bulan April, menurut Institut Penelitian Padi Bangladesh (BRRI). 

Suhu rata-rata di Bangladesh pada bulan April biasanya tidak lebih dari 33 derajat Celcius. Data resmi menunjukkan sekitar 68.000 hektar sawah hancur atau berada dalam kondisi rusak. Lebih dari 300.000 petani dikabarkan ikut terdampak.

Negeri seribu sungai itu tergolong rajin disambangi bencana alam seperti banjir, kekeringan atau badai. Tapi gelombang panas merupakan hal baru, kata Entomolog BRRI, Nazmul Bari. "Kami belum pernah mencatat syok semacam ini sebelumnya,” kata dia.

"Suhunya meningkat dari hari ke hari dan tidak ada hujan. Jadi kelembapan di udara sangat rendah. Inilah penyebab gelombang panas ekstrem ini.”

Ketahanan pangan terancam
Romij Uddin, Guru Besar Agronomi di Universitas Pertanian Bangladesh, menjelaskan tanaman padi sangat rentan terhadap gelombang panas. Suhu ekstrem yang melanda di bulan April misalnya mengganggu musim penyerbukan, dan siklus alami reproduksi padi.

"Suhu sangat krusial bagi proses penyerbukan dan temperatur yang tinggi pada fase ini bisa memicu ketidaksuburuan,” kata dia. 

Saat ini sepertiga dari 160 juta penduduk Bangladesh dikategorikan mengalami kerentanan pangan. Artinya mereka tidak bisa menjamin pola makan bernutrisi atau makan makanan yang aman untuk dikonsumsi, menurut Program Pangan PBB

Saleemul Huq, Direktur Pusat Perubahan Iklim dan Pembangunan Internasional di Dhaka, memprediksi jika insiden gelombang panas terus terjadi, tahun ini Bangladesh akan kehilangan 20% panen padi. "Kita harus mewaspadai gelombang panas,” katanya.

Huq dan pakar pertanian lain mengimbau pemerintah memastikan pasokan air irigasi bagi pertanian, dan agar petani menggunakan bibit padi yang tahan panas. 

Sazzadur Rahman, Direktur Fisiologi di BRRI, mengatakan pihaknya sedang mengembangkan padi varietas baru yang lebih kebal cuaca ekstrem. Menurutnya sejauh ini hasil penelitian bersifat menjanjikan.

"Padinya berkembang baik dan cepat. Varietas yang kami kembangkan akan mampu mentolelir suhu hingga 38 derajat Celcius,” kata dia. "Gelombang panas akan mengancam ketahanan pangan, dan kita harus berusaha mencegah bencana ini

Angka Pengungsi Akibat Cuaca Ekstrem Catat Rekor Baru

Lebih dari 40 juta orang terusir dari rumah mereka akibat konflik yang terus berlanjut dan cuaca ekstrem yang memburuk pada tahun 2020. Migrasi akibat kekacauan iklim menimbulkan tantangan bagi negara-negara kaya.

Badai, banjir, kebakaran hutan, dan kekeringan akibat kenaikan suhu yang menyebabkan kekacauan iklim, membuat lebih dari 30 juta orang mengungsi tahun lalu, demikian menurut laporan Pusat Pemantauan Pemindahan Internal (IDMC). Ditambah dengan konflik perang dan kekerasan, yang memaksa 9,8 juta orang mengungsi di dalam wilayah perbatasan mereka, IDMC mencatat total jumlah pengungsi internal baru pada tahun 2020 menjadi 40,5 juta orang.

Organisasi penelitian yang berbasis di Jenewa, Swiss, ini bahkan memperkirakan rekor baru yakni 55 juta orang hidup terlantar di negara mereka sendiri pada akhir tahun. Itu berarti, dua kali lipat jumlah pengungsi di dunia.

Cuaca ekstrem meningkat secara tidak wajar akibat pembakaran bahan bakar fosil dan perubahan iklim. Faktor ini diprediksi akan membuat lebih banyak orang mengungsi dari rumah mereka akibat bencana seperti banjir dan badai, serta krisis seperti gagal panen dan kekeringan.

Di negara-negara kaya, para politisinya telah mengemukakan kekhawatiran bahwa migrasi besar-besaran dari daerah yang lebih miskin dapat membebani layanan publik saat planet memanas. Namun gagasan ini dinilai hanya sebagai sebuah "gangguan" karena sebagian besar pengungsian sejatinya bersifat internal, kata Bina Desai, kepala program di IDMC.

"Merupakan kewajiban moral untuk benar-benar berinvestasi dalam mendukung mereka di tempat mereka berada - daripada hanya memikirkan risiko ketika mereka tiba di perbatasan," tambahnya.

Mengungsi akibat kekacauan iklim
Laporan tahunan itu mencatat bahwa lebih dari 80% orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka pada tahun 2020 berada di Asia dan Afrika.

Di Asia, sebagian besar orang terpaksa mengungsi karena cuaca ekstrem. Seperti di Cina, India, Bangladesh, Vietnam, Filipina, dan Indonesia, kombinasi dari pertumbuhan penduduk dan urbanisasi menyebabkan lebih banyak orang terdampak banjir akibat naiknya permukaan laut.

Seperti topan terparah dalam 20 tahun terakhir yang baru-baru ini melanda India, memaksa pihak berwenang untuk mengevakuasi lebih dari 200.000 orang di negara bagian Gujarat. Meskipun sistem peringatan dini berfungsi menyelamatkan banyak orang, namun banyak dari mereka yang tidak memiliki rumah untuk kembali.

Selain itu, topan Amphan yang melanda Bangladesh tahun lalu, menyebabkan 2,5 juta orang mengungsi dan menghancurkan 55.500 rumah. Laporan itu juga menunjukkan bahwa 10% orang yang mengungsi kehilangan tempat tinggal. 

Kalau di Asia banyak orang mengungsi akibat cuaca ekstrem, di Afrika sebagian besar pengungsian pada tahun 2020 justru disebabkan oleh konflik. Kekerasan yang terus-menerus terjadi, memaksa orang-orang meninggalkan rumah mereka di negara-negara seperti Burkina Faso dan Mozambik. Sementara perang baru juga dilaporkan bermunculan di negara lain seperti Ethiopia.

IDMC memperkirakan setengah juta orang telah melarikan diri dari pertempuran di wilayah Tigray Ethiopia pada akhir tahun lalu. Sejak itu, UNICEF mencatat angka di atas satu juta pengungsi.

Beberapa konflik juga diperparah dengan musim hujan yang sangat panjang dan lebat, yang mengakibatkan banjir dan bencana panen. Seperti di Somalia, Sudan, Sudan Selatan dan Niger, hujan deras memaksa pengungsi yang sejatinya sudah terlantar untuk kembali mengungsi di negara tersebut, demikian menurut laporan itu. Bencana lingkungan seperti ini memicu 4,3 juta orang mengungsi di sub-Sahara Afrika pada tahun 2020. Setidaknya setengah dari mereka masih mengungsi hingga akhir tahun.

Di sisi lain, migran dari daerah pedesaan ke kota sering "dipaksa untuk menetap di daerah yang tidak aman untuk tempat tinggal dan rawan banjir atau bahaya lainnya," kata Lisa Lim Ah Ken, seorang spesialis iklim regional di Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) PBB di Kenya. "Banyak yang bisa dilakukan, dimulai dengan pencegahan," tambahnya. 

Perlu sumber daya untuk bermigrasi
Para peneliti mengatakan hubungan antara iklim dan migrasi kurang dipahami dan terkadang dilebih-lebihkan. Sementara IDMC mengumpulkan data tentang pengungsian internal yang sebagian besar berasal dari bencana mendadak seperti banjir dan badai, hanya ada sedikit data tentang berapa banyak orang yang meninggalkan rumah karena krisis lingkungan seperti kenaikan suhu dan permukaan laut.

Namun, meta-analisis yang diterbitkan pada bulan Maret oleh Pusat Analisis Kebijakan Ekonomi Universitas Potsdam menemukan bahwa bencana yang terjadi dalam waktu lama seperti gelombang panas dan kekeringan lebih cenderung meningkatkan migrasi daripada bencana yang melanda secara tiba-tiba seperti banjir dan badai. Alasannya, kaarena orang membutuhkan uang untuk bermigrasi, kata peneliti. Banjir dan badai biasanya berpotensi membuat mereka kehilangan dan merugi secara materi.

Sementara mereka yang tetap tinggal, kebanyakan tanpa asuransi untuk membangun kembali rumah atau mata pencaharian, dapat terjebak dalam siklus cuaca ekstrem. Meskipun yang lain mungkin memilih untuk tetap tinggal karena alasan lain.

"Jika Anda ingin bermigrasi, maka Anda memerlukan sumber daya untuk melakukannya," kata Barbora Sedova, ekonom yang mempelajari konflik dan migrasi di Institut Potsdam untuk Riset Dampak Iklim, dan salah satu penulis studi tersebut. "Yang tidak begitu banyak dibicarakan adalah populasi yang terperangkap di daerah asalnya dan yang sebenarnya kekurangan sumber daya untuk bermigrasi." 

Cuaca semakin ekstrem
Perubahan iklim telah membuat cuaca ekstrem menjadi lebih ekstrem, termasuk di negara-negara kaya.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Natural Hazards and Earth System Sciences pada bulan Maret menemukan bahwa risiko kebakaran hebat selama musim kebakaran hutan Australia 2019-2020 terjadi 30% lebih mungkin karena perubahan iklim akibat ulah manusia. Kebakaran itu menewaskan 34 orang dan menghancurkan ribuan rumah.

Sementara, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications menemukan bahwa 13 persen dari faktor bencana Badai Sandy yang melanda New York pada tahun 2012 adalah akibat dari kenaikan permukaan laut. Seandainya planet tidak memanas akibat ulah manusia, dan dengan asumsi semua faktor lain tetap konstan, 70.000 orang bisa terselamatkan dari banjir, berdasarkan pemodelan yang dilakukan para peneliti.

Peneliti yang berfokus pada migrasi iklim telah menyerukan kepada pemerintah untuk segera mengurangi emisi gas rumah kaca, beradaptasi dengan perubahan iklim dan terus mendukung komunitas pengungsi.

"Jika kita menciptakan peluang bagi orang-orang ini di kota - dalam hal pekerjaan, perumahan, kehidupan dan martabat - maka migrasi tidak harus menjadi masalah keamanan internasional," kata Sedova. "Jika dikelola dengan baik, bahkan dapat berdampak positif bagi negara

 



Category :classes

Programme Saturation and Student Teachers Reflective Capabilities

Programme Saturation and Student Teachers Reflective Capabilities

- Programme Saturation and Student Teachers Reflective Capabilities


Natural Beauty of Luxury Rustic Retreats

Natural Beauty of Luxury Rustic Retreats

- Natural Beauty of Luxury Rustic Retreats


SAP C_MDG_1909 Dumps Comes with 100% Money Back Guarantee:

SAP C_MDG_1909 Dumps Comes with 100% Money Back Guarantee:

- C_MDG_1909 Exam, C_MDG_1909 questions, C_MDG_1909 practice test, C_MDG_1909 practice exam, C_MDG_1909 dumps, C_MDG_1909 Exam Dumps,


Get [25% OFF] and [90 Days Free Update] on Microsoft PL-900 Dumps

Get [25% OFF] and [90 Days Free Update] on Microsoft PL-900 Dumps

- PL-900 Exam, PL-900 questions, PL-900 practice test, PL-900 practice exam, PL-900 dumps, PL-900 Exam Dumps, PL-900 exam questions,