Minoritas Sikh India di Garda Depan Perang Melawan Wabah

Publish Date : 2021-06-10


Minoritas Sikh India di Garda Depan Perang Melawan Wabah

Harteerath Singh sudah dua kali terinfeksi virus corona. Setiap kali, pria Sikh itu menghabiskan waktu lama untuk pulih, sebelum kemudian kembali bekerja menyediakan oksigen gratis bagi pasien Covid-19 di kotanya, Gurgaon, di utara India.

Yayasan Hemkunt didirikan oleh ayah Harteerath pada 2010 silam. Aksinya melayani pengidap di tengah tsunami Covid-19 membuahkan ketenaran di seantero negeri, dan mewakili aktivisme minoritas Sikh dalam memerangi wabah di India.

Selain Harteraath, dua yayasan Sikh lain, Khalsa Aid dan Delhi Sikh Gurdawara Management Committe, ikut turun tangan mengorganisir distribusi tabung oksigen, atau memasok perlengkapan medis ke rumah sakit.

Komunitas Sikh tergolong minoritas di India dan kerap dicap "anti-nasional” atau "separatis” oleh simpatisan partai pemerintah, BJP. Stigma sosial menguat selama aksi protes para petani melawan UU Pertanian, yang kebanyakan dihadiri warga Sikh.

Krisis perkuat solidaritas
Ketika gelombang kedua wabah corona menerpa India April silam, infrastruktur kesehatan nasional ambruk menghadapi lonjakan pasien. Pada puncaknya, India melaporkan lebih dari 400.000 kasus penularan dan kematian 4.000 pasien dalam satu hari.

Kelangkaan oksigen memicu krisis, menyusul banyaknya pasien yang meninggal dunia lantaran terlambat atau tidak mendapat jatah oksigen.

Harteraarth dan relawannya mendirikan "langar oksigen,” mengacu pada nama dapur bersama di Gurdwara, kuil kaum Sikh. Di sana, Yayasan Hemkunt menawarkan oksigen gratis, yang disambut antrian panjang keluarga pasien. Belakangan Herteraarth memutuskan membangun pusat kesehatan yang bisa menampung hingga 500 pasien Covid.

"Kami bekerja dengan keras. Kami membuka pesanan, jika area Anda membutuhkan bantuan, kabari kami melalui nomor bantuan,” kata dia.

Organisasi Sikh lain ikut membuka klinik darurat untuk merawat pasien Covid-19dengan tabung oksigen.

Dari separatis menjadi juru selamat
Hingga akhir bulan lalu minoritas Sikh di India masih mendulang kecaman atas dukungan terhadap demonstrasi petani. Kini, sentimen publik mulai berubah. Contoh terbaik bisa disimak pada kasus Khalsa Aid, yang disidik Dinas Investigasi Nasional lantaran diduga ikut mengkoordinasikan aksi protes.

Penyelidikan dihentikan menyusul eskalasi wabah. Kini ribuan relawan Khalsa Aid sibuk membagikan tabung oksigen terhadap pasien Covid-19.

"Agama mengajarkan kami satu hal, yakni mengakui persaudaraan umat manusia,” kata Gurpreet Singh, seorang tenaga administrasi di Khalsa Aid India.

"Rasa puas yang Anda dapat jika Anda mengabdi untuk seseorang yang membutuhkan sangat luar biasa," imbuhnya.

Namun bagi Harterarth, perang masih panjang. Belum lama ini dia harus mengantar oksigen ke negara bagian Jharkhand. Sepekan sebelumnya dia berada di Jammu Kashmir, membawa suplai medis ke kawasan terpencil.

"Pendanaan yang seret memperlambat kerja kami, ketika banyak pendonor yang mengira krisis corona di India sudah berakhir. Itu tidak benar. Wabah kini bergeser dari kota ke kawasan pedalaman,” ujarnya. "Kami membutuhkan lebih banyak dukungan.

Beberapa kota pesisir terbesar di dunia dapat terendam banjir parah pada tahun 2050 sebagai akibat dari pemanasan global. Banjir ekstrem yang dulunya terjadi sekali seabad mulai terjadi setiap tahun di beberapa kota.

Dari membantu korban perang sipil di Yaman, memerangi virus Ebola di Afrika, hingga menyelamatkan para imigran di Mediterania, organisasi Dokter Lintas Batas telah menjalani 100 misi di hampir 75 negara.

Selama 50 tahun, organisasi kemanusiaan medis internasional Medecins Sans Frontieres (MSF) atau Dokter Lintas Batas telah menyediakan perawatan medis bagi korban gempa bumi, kelaparan, epidemi, konflik, dan bencana lainnya di seluruh dunia.

Berawal dari impian tentang dedikasi tanpa dilengkapi sumber daya, hingga dianugerahi Nobel Perdamaian tahun 1999, kiprah MSF telah diakui secara global atas aksi kemanusiaan.

"Dari mimpi, kita ciptakan kisah bersejarah," kata Xavier Emmanuelli, 83, salah satu pendiri MSF kepada AFP.

"Kami ingin pergi ke tempat orang-orang menderita. Hari ini mungkin tampak basi, tetapi pada saat itu, ini adalah tindakan revolusioner," kata Bernard Kouchner, salah satu pendiri MSF yang lain.

Awal yang sulit
MSF didirikan pada Desember 1971. Nama organisasi itu dipilih ketika para dokter menghabiskan malam dengan merokok dan minum, kenang Emmanuelli.

Awal mula dirintisnya MSF yang beroperasi tanpa pendanaan bertujuan menjadi sebuah badan yang menyediakan dokter untuk dipekerjakan oleh LSM lain.

Seorang dokter muda bernama Claude Malhuret berangkat ke Thailand pada tahun 1975 untuk membantu korban yang telah melarikan diri dari Khmer Merah Kamboja. Namun, dia kecewa karena tidak bisa bertindak banyak.

"Itu sangat mengerikan. Kami tidak punya apa-apa," kata anggota majelis tinggi Prancis kepada AFP. Pengalaman itu mengguncang semua orang dan menyadarkan banyak pihak bahwa mereka tidak bisa melanjutkan misi kemanusiaan

Kontroversi perjalanan MSF
Mendapat pendanaan dari pihak swasta membuat MSF aktif mengungkapkan pendapat. Namun, pengacara yang mengkhususkan diri dalam bidang kemanusiaan, Philippe Ryfman, mengatakan bahwa MSF tidak menerapkan prinsip netralitas dan menghormati kedaulatan negara yang dianut oleh Komite Internasional Palang Merah (ICRC).

"Mereka (MSF) tidak ragu-ragu untuk angkat bicara dan memobilisasi opini publik," katanya.

Silang pendapat tidak menghentikan operasi MSF ke negara-negara yang membutuhkan perawatan medis. "Kami adalah satu-satunya orang yang melihat efek perang," kata Juliette Fournot, yang mengorganisir misi MSF ke Afghanistan hingga 1989.

Tanpa diketahui banyak orang, MSF secara diam-diam mengirimkan tim untuk membantu warga Afganistan setelah pendudukan Soviet tahun 1979. Setiap hari, para petugas medis harus melakukan amputasi pada anak-anak dan merawat petani yang mengalami luka bakar di telapak tangan.

"Organisasi nomor satu"
Mendapat penghargaan Nobel Perdamaian pada 1999, memungkinkan MSF membiayai misi kemanusiaan ke lebih banyak negara. Salah satunya adalah menyediakan obat-obatan untuk penyakit AIDS.

Saat ini MSF tersebar di 25 negara, mempekerjakan 61.000 orang, dan dua pertiga di antaranya ditempatkan di lapangan. Anggaran tahunan MSF hampir $ 1,9 miliar (Rp 27,1 triliun), 99 persen sumber dana tersebut berasal dari sumbangan pribadi.

"Tak terbantahkan, MSF menjadi organisasi nomor satu di dunia untuk perawatan medis darurat," kata Ryfman

Krisis Corona Belum Usai, India Evakuasi Ratusan Ribu Orang Akibat Topan Tauktae

Pihak berwenang mengevakuasi lebih dari 200.000 orang saat topan Tauktae melanda pantai barat India. Badai yang amat sangat parah itu datang ketika India sedang berjuang melawan lonjakan kasus dan kematian akibat corona.

Topan terparah yang melanda India dalam lebih dari dua dekade menghantam pada Senin (17/5). Topan itu melanda India hanya beberapa jam setelah pihak berwenang mengamankan daerah di jalur badai dan menghentikan vaksinasi COVID-19 di satu negara bagian barat.

Lebih dari 200.000 orang diminta meninggalkan rumah mereka di negara bagian Gujarat, sementara pihak berwenang menutup beberapa pelabuhan dan menangguhkan vaksinasi COVID-19.

Topan Tauktae yang telah menewaskan sedikitnya belasan orang setelah menyapu Laut Arab, juga menghancurkan infrastruktur di negara bagian pesisir Kerala, Karnataka, Goa, dan Maharashtra. Sementara angin kencang dan hujan lebat yang menghantam kota pusat keuangan Mumbai, menyebabkan banjir.

Departemen Meteorologi India (IMD) melaporkan kecepatan angin hingga 133 kilometer per jam pada pukul 21.30 waktu setempat (1600 GMT).

'Amat sangat parah'
Sebelumnya pada Senin (17/5), IMD mengategorikannya sebagai badai yang "amat sangat parah," meningkatkannya dari kategori "sangat parah".

Menteri keuangan negara bagian Gujarat, Pankaj Kumar, mengatakan Tauktae menjadi "topan paling parah yang melanda Gujarat dalam setidaknya 20 tahun."

"Topan ini bisa dibandingkan dengan topan tahun 1998 yang melanda Kandla dan menimbulkan kerusakan parah," kata Kumar kepada Reuters.

Topan tahun 1998 yang melanda Gujarat menewaskan sedikitnya 4.000 orang dan menyebabkan kerugian ratusan juta dolar. 

Badai di tengah gelombang virus mematikan
Topan Tauktae datang saat India sedang berjuang melawan gelombang besar infeksi COVID-19 yang menewaskan sedikitnya 4.000 orang setiap hari.

Otoritas kesehatan Gujarat kini terpaksa menangguhkan vaksinasi COVID-19 selama dua hari

Menteri Utama negara bagian Gujarat, Vijay Rupani, meminta para pejabat untuk memastikan bahwa pasokan oksigen untuk rumah sakit tidak terganggu.

Menurut Kumar, 1.383 cadangan daya telah dipasang untuk memastikan rumah sakit yang terkena virus corona tidak menghadapi pemadaman listrik.

"Tiga puluh lima 'koridor hijau' juga telah dibuat untuk suplai oksigen ke rumah sakit yang merawat pasien COVID," ujarnya.

Otoritas Gujarat terus mengevakuasi ratusan ribu orang ke tempat penampungan sementara. Namun, hal ini memicu kekhawatiran atas peningkatan risiko penularan virus di tempat penampungan yang padat.

Sementara itu, Mumbai menutup bandaranya selama beberapa jam pada Senin (17/5) dan mendesak orang-orang untuk tetap tinggal di dalam rumah. Sehari sebelumnya, 580 pasien COVID-19 dipindahkan ke lokasi yang lebih aman dari tiga rumah sakit yang dibangun secara darurat.



Category :careers

Top Suggestions By Experts For CA Aspirants

Top Suggestions By Experts For CA Aspirants

- India is the country where there is always a short cut to do things. Clearing your CA exam is no exception. But there is a slight change and that is you have to do hard work but smartly.


The Best Jobs to Work Remotely

The Best Jobs to Work Remotely

- Those with a foundation in software engineering or programming should seriously think about turning into an Android or iOS designer


Certificates in Criminal Justice and Why You Should Get One

Certificates in Criminal Justice and Why You Should Get One

- Certificates in general give you a fast and quick way to get into any profession or help you specialize in your current profession. You can get a certificate.


College 101: Why You Should Choose an Online Education

College 101: Why You Should Choose an Online Education

- Traditional universities and colleges are never going to disappear, however its easy to see why more and more people are heading to cyberspace for their educat